📍 Bisa
🌐 Edisi Indonesia ▾
💳 Berlangganan
Jadi penulis
Daftar sebagai pembaca
Masuk
YukBaca
Featured Image Episode
[ 1200 - 675px — 16:9 ]
Cek Fakta · Episode 124 · Season 4
Prabowo gadaikan data publik: Perjanjian AS-Indonesia berisiko langgar hak privasi warga
📅 7 Maret 2026
⏱ 54 menit
👥 12.4K didengar
👥 38 komentar
Cek Fakta
Cek Fakta · Ep. 124
Prabowo gadaikan data publik: Perjanjian AS-Indonesia…
15:18 54:22
1-
-15
+30
📚 Simpan
— Unduh
📚 Share
Dengarkan di
Spotify
Apple Podcasts
Google Podcast
YouTube
— MP3 · 74 MB
Tentang Episode

Satu tahun sudah Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka memimpin Indonesia.

Masa satu tahun pertama pemerintahan idealnya menjadi fase krusial dalam menentukan arah dan karakter bangsa ke depan. Periode ini tidak hanya berfungsi sebagai tahap konsolidasi dan penataan prioritas kebijakan, tetapi juga sebagai ajang pembuktian sejauh mana janji-janji politik dapat diterjemahkan menjadi kerja nyata dan kebijakan yang berdampak bagi publik.

Apakah arah kebijakan publik satu tahun ini sudah terlihat baik? Bagian mana yang perlu dibenahi oleh pemerintahan Prabowo?

Dalam episode ini, kami membahas topik ini bersama Adinda Tenriangke Muchtar, Direktur Eksekutif dari The Indonesian Institute.

Gambar Pendukung / Infografis
[ Insert manual oleh admin ]
Keterangan gambar — diisi manual oleh admin saat insert konten

Adinda menyoroti sejumlah persoalan mendasar seperti tidak jelasnya prioritas pembangunan, lemahnya tata kelola, serta minimnya evaluasi kebijakan yang komprehensif.

Ia menilai, kebijakan baru kerap gagal menyelesaikan masalah utama karena pemerintah lebih sibuk membentuk lembaga baru daripada memperkuat proses yang sudah ada.

Ia menambahkan bahwa efektivitas kebijakan seharusnya tidak hanya diukur dari hasil akhir, tetapi juga dari kualitas proses perumusannya.

Adinda juga mengkritik wacana kebijakan nasional yang cenderung didominasi satu sudut pandang, mengabaikan ruang bagi deliberasi publik dan pemikiran kritis.

Transkrip — diisi manual oleh admin

Adinda menyoroti bahwa efektivitas kebijakan seharusnya tidak hanya diukur dari hasil akhir, tetapi juga dari kualitas proses perumusannya. Ia menilai, selama satu tahun pertama pemerintahan Prabowo, kebijakan baru kerap gagal menyelesaikan masalah utama karena pemerintah lebih sibuk membentuk lembaga baru daripada memperkuat proses yang sudah ada.

Dari sejumlah kebijakan yang telah diluncurkan, masih terdapat kekurangan dalam penerapan pendekatan berbasis bukti (evidence-based policy). Kurangnya riset dan perencanaan matang membuat hasil kebijakan sering kali tidak efektif.

Adinda juga mengkritik wacana kebijakan nasional yang cenderung didominasi satu sudut pandang, mengabaikan ruang bagi deliberasi publik dan pemikiran kritis. Dalam konteks politik yang kompleks, ia menekankan urgensi peningkatan tata kelola dan transparansi dalam proses pembuatan kebijakan publik.

Ia menyoroti perlunya memperkuat aspek inklusivitas dan akuntabilitas dalam tata kelola pemerintahan. Kebijakan publik harus mampu mencerminkan keragaman suara masyarakat, termasuk pandangan dari kalangan akademik dan masyarakat sipil.

Adinda juga mengingatkan pentingnya kemauan politik dan transparansi untuk meningkatkan efektivitas kebijakan publik. Kebijakan yang baik bukan hanya yang tampak solutif di permukaan, tetapi yang benar-benar mampu menjawab akar masalah sosial.

Data Privasi
Kebijakan Publik
AS-Indonesia
Prabowo
Podcast